Minggu, 07 Februari 2010

WANITA MUSLIM WAJIB BERJILBAB


“Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab” ( 3 )

Oleh : syaikh Abdul Hamid Al Bilaly

D. SYUBHAT KEEMPAT: ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH

Para akhawat yang tidak berhijab banyak yang berdalih: “Allah belum memberiku
hidayah. Sebenamya aku juga ingin berhijab, tetapi hendak bagaimana jika hingga
saat ini Allah belum memberiku hidayah?, do’akanlah aku agar segera mendapat
hidayah!”

Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata.
Kami ingin bertanya: “Bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu
hidayah?”

Jika jawabannya, “Aku tahu”, maka ada satu dari dua kemungkinan:

Pertama, dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi
(Lauhul Mahfuzh). Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang
yang celaka dan bakal masuk Neraka.

Kedua, ada makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya, bahwa
dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa jadi yang memberitahu
itu malaikat atau pun manusia.

jika kedua jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui Allah
belum memberimu hidayah? Ini salah satu masalah.

Masalah lain adalah, Allah telah menerangkan dalam kitabNya, bahwa hidayah itu
ada dua macam. Masing-masing adalah hidayah dilaIah dan hidayah taufiq.

Hidayah Dilalah
Ini adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam hidayah ini, terdapat
campur tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan
RasulNya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran pada manusia yang mukallnf,
juga Dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para
Rasul dan KitabNya. Para rasul pun telah menerangkan jalan ini kepada kaumnya.
Begitu pula para da’i. Mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi
semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.

Hidayah Taufiq
Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya (dalam pemberian
hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari
penyimpangan, pertolongan agar tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran,
pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran,
kefasikan dan kemaksiatan.

Hidayah taufiq diberikan kepada orang yang memenuhi panggilan Allah dan
mengikuti petunjukl\lya.
Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah. Sejak awal, dengan tidak
pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah
berfirman, Artinya:

“Dan adapun kaum Tsamua maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka
lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk itu …. ” (Fushshilat: 17 )

Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukaIlaf untuk
memilih antara jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan
kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang kepadanya.
Allah berfirman:

Artinya: ”Dan orang-orang yang meminta petunjuk, Allah (akan) menambah
petunjuk pada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya ” .
(Muhammad: 17)

Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan
menambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq.
Allah berfirman :

Artinya: “Katakanlah: ‘Barangsiapa yang berada dalam kesesatan, maka biarlah
Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya …. “(Maryam: 75)

Artinya: …Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan
hati mereka “. (Ash Shaf: 5)

Penumpamaan Hidayah Taufiq
Syaikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena tentang hidayah
taufiq ini, dan itu merupakan sunnatullah. Beliau mengumpamakan dengan
seseorang yang menanyakan suatu alamat. Orang itu pergi ke polisi lalu lintas
untuk menanyakan alamat tersebut. Lain polisi menyarankan: “Anda bisa berjalan
lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan anda belok ke kanan,
selanjutnya ada gang, anda belok ke kiri, di situ anda mendapatkan jalan raya,
di seberang jalan raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamplet besar,
itulah alamat yang anda cari”.

Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi atau
mendustakannya. Jika percaya kepada polisi, ia akan segera beranjak mengikuti
petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk polisi,
ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan.

Jika ia tidak mempercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai
pendusta, sehingga ia berjalan menuju arah yang berlawanan, maka semakin jauh
dia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan
kesesatan.

Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah
ini. Siapa yang memilih kebenaran, Allah akan menolong dan meneguhkannya. Dan
siapa yang memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya
bersama setan yang menyertainya.

Carilah Sebab-sebab Hidayah, Niscaya Anda Mendapatkannya
Itulah sunnatullah yang berlaku pada semua makhluknya. Allah berfirman:
…Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan
sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu”.
(Faathir: 43)

Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia
memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lain mengupayakan
sebab-sebab perubahan yang dimaksudnya. Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ” (Ar Ra’d: 11)

Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain
mendoakan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan
sebab-sebab yang bisa mengantarkannya mendapat hidayah tersebut.

Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam. Suatu hari, dia
amat membutuhkan makanan, Padahal ketika itu, ia dalam kondisi sangat lemah,
seperti yang biasa terjadi pada wanita yang hendak melahirkan. Lalu Allah
memerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekali
pun tidak akan mampu melakukannya. Maryam diminta menggoyang-goyangkan pangkal
pohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit
digoyang-goyangkan. Allah berfirman:

Artinya: “Dan goyanglah pangkal pohon korma itu ke arahmu …. (Maryam: 25)
Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma, sementara dia dalam
kondisi yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab
dengan cara meletakkan tangannya di pohon korma.

Dengan demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan sunnatullah dalam hal
perubahan. Maka hasilnya adalah:
Artinya: “Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu “.
(Maryam: 25)
Inilah sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang mukmin terus-menerus
berada di masjid, bahkan meskipun di Masjidil Haram dengan hanya duduk dan
beribadah kepada Allah, Seraya mengharap rizki dari Allah.

Tentu Allah tidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari sebab-sebab
rizki tersebut. Langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan
perak.

Karena itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya
anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu ialah
berdo’a agar mendapat hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca,
mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis-majelis dzikir dan
ceramah agama, mendengarkan kaset pengajian agama, membaca buku-buku tentang
keimanan dan sebagainya.

Tetapi, sebelum melakukan semua itu hendaknya engkau terlebih dahulu
meninggalkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman
yang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan
tayangan-tayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian
tanpa disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda (pacaran), dan
hal-hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

E. SYUBHAT KELIMA: TAKUT TIDAK LAKU NIKAH

Sebagian akhawat yang tidak ber-hijab berdalih dengan takut tidak laku nikah
Syubhat yang dibisikkan setan dalam jiwa sebagian akhawat yang tidak berhijab
ini, pangkalnya adalah perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan
menikah kecuali jika dia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan dan
perhiasan sang gadis. Jika ia berhijab atau memakai cadar, tentu tak ada yang
bisa dilihat dari padanya, sehingga sang pemuda enggan mengambil keputusan
untuk menikahinya.

Ironinya, kepercayaan seperti ini, tidak hanya monopoli para akhawat, tetapi
juga merupakan kepercayaan para orang tua, pada akhirnya mereka melarang
anak-anak puterinya memakai hijab. Syubhat ini tidak bisa diterima lewat dua
alasan mendasar.

Penilaian dari Sisi Teori Dasar
Meskipun kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan,
tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena harta, keturunan,
kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama,
(jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu.

Memang demikian yang terjadi. Kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur
kecantikan semata, tetapi ada hal-hal lain yang menyatu dengan kecantikan itu
atau terlepas darinya, yang dijadikan pertimbangan dalam memilih istri. Namun
para gadis dan orangtua banyak yang menganggap kecantikan adalah
segala-galanya. Atau setidak-tidaknya menjadikan kecantikan sebagai unsur
terpenting, sedangkan hal lainnya bisa dikesampingkan. Jelas, jalan pikiran
seperti ini bertentangan dengan naluri manusia.

Penilaian dari Sisi Empiris
Bisa jadi sikap gadis-gadis yang biasa memperlihatkan aurat –yang dimaksudkan
untuk menawan hati pria– menjadi bumerang bagi dirinya. Betapa banyak tindakan
itu malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab bisa saja para pemuda
itu beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah
Allah, yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar
perintah-perintah yang lain. Karena setan memiliki banyak kiat.

Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini,
tetapi memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang. Pemuda
yang menyunting gadis ber-hijab, namanya akan menjadi harum, meskipun ia
sendiri tidak termasuk orang-orang yang dinilai ta’at menjalankan perintah
agama.

F. SYUBHAT KEENAM: IA MASIH BELUM DEWASA

Syubhat ini banyak beredar di kalangan orangtua serta sebagian akhawat yang
tidak ber-hijab. Sebenarnya anak-anak tersebut sudah memiliki niat memakai
hijab, tetapi kemudian ditunda karena syubhat ini. Karena itu dalih ini lebih
pantas disebut hawa nafsu daripada syubhat.

Kebanyakan mereka berkata: “Jangan sampai melarangnya menikmati kehidupan. Dia
toh masih belum dewasa. Dia masih senang dengan pakaian yang indah, bersolek
dengan berbagai macam make up serta masih suka menampakkan kecantikannya. Semua
ini membuatnya lebih berbahagia dan menikmati hidup”.

Kenapa kita melarang dan menghalangi kebahagiaan justru pada saat umur mereka
masih relatif sangat muda?
Kalau kita terlanjur ketinggalan kereta, mengapa kita membuatnya pula
ketinggalan kereta dengan begitu tergesa-gesa?

Menurut pendapat mereka, masa belum dewasa berlangsung hingga anak berumur dua
puluh tahun. Karenanya, meskipun ada gadis yang sudah datang bulan pada umur 13
tahun, dia masih dianggap anak-anak.

Nasihat untuk Para Wali
Sesungguhnya para wali, baik bapak atau ibu yang mencegah anak-anak puterinya
ber-hijab, dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka memiliki tanggung
jawab yang besar di hadapan Allah pada hari Kiamat.

Ketika seorang gadis mendapatkan haidh, seketika itu pula ia wajib ber-hijab,
menurut syari’at. Jika wali gadis itu melarangnya ber-hijab, maka dia mendapat
dosa besar, dan Allah akan, menanyakan hal itu pada hari Kiamat. Allah
berfirman:

Artinya:” Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka
akan ditanya “. (Ash-Shaaffaat: 24)
Maksudnya jika ia menyuruh anak puterinya memakai hijab sejak dini.
Nabi ShalIallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan ditanya tentang
yang dipimpinnya…. “

Seorang ayah adalah pemimpin pertama dalam rumah tangga. Pada hari Kiamat dia
akan ditanya tentang masing-masing orang yang ada di bawah kepemimpinannya.

Setiap ayah hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: “Berapa banyak para
pemuda yang tergoda oleh anak puterinya? Seberapa jauh puterinya menyebabkan
penyimpangan para pemuda?”

Ungkapan Cinta untuk Anak-anak Puteri
Allah sebagai saksi, betapa kami amat mengkhawatirkan dirimu akan mendapat
siksa Allah. Kami begitu ingin menyelamatkanmu dari segala bahaya yang akan
menimpamu, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah kewajiban seorang muslim
kepada saudaranya muslim yang lain.

Di antara bahaya yang bakal menimpa ukhti yang tidak ber-hijab, baik di dunia
maupun di akhirat, adalah seperti disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dalam sabdanya:

“Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya
kaum lelaki, mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka
berpakaian (tetapi) telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti
punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka!, sesungguhnya mereka adalah
wanita-wanita terlaknat.

Wahai ukhti yang tak ber-hijab! Tahukah engkau makna laknat? Laknat artinya
dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.
Dalam hadits tadi, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam memerintahkan setiap
muslim, agar melaknat tipe wanita seperti yang telah disebutkan. Yaitu mereka
yang mengenakan pakaian di tubuh mereka, tapi tidak sampai menutup auratnya,
sehingga seakan-akan mereka telanjang. Dalam hadits lain Nabi shallallahu
alaihi wasalam bersabda:

“Dua kelompok termasuk penghuni Neraka, aku (sendiri) belum pernah melihat
mereka, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya
mereka mencambuki manusia , dan para wanita yang berpakaian (tetapi) telanjang,
bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok, kepala mereka (ada sesuatu) seperti
punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga, bahkan
tidak mendapatkan baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak
perjalanan sekian dan sekian “.(HR.Muslim)

Dalam hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci tentang golongan wanita
ini, yaitu:
Mengenakan sebagian pakaian, tetapi dia menyerupai orang telanjang, karena
sebagian besar tubuhnya terbuka dan itu mudah membangkitkan birahi laki-laki,
seperti paha, lengan, rambut, dada dan lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus
pandang atau yang amat ketat, sehingga membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, maka ia
seperti telanjang, meski berpakaian.

Jalannya lenggak-lenggok dan bergoyang, sehingga membangkitkan nafsu birahi.

Kepalanya tampak lebih tinggi, sebab ia membuat seni hiasan dari bulu atau
rambut sintetis, karena tingginya, ia seperti punuk onta.

Hadits tersebut juga menjelaskan hakikat golongan wanita yang tidak masuk
surga, bahkan sekedar mencium bau wanginya pun tidak, padahal rahmat Allah
meliputi segenap langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah Shallallalhu ‘Alaihi
Wasallam yang menyuruh kaum muslimin agar melaknat mereka. “Laknatlah mereka,
sesungguhnya mereka adalah wanita terlaknat”.

Kami tidak menginginkan, selain kebaikan bagi anda Kekhawatiran kami kepada
diri anda, mendorong kami berharap dari lubuk hati kami yang terdalam, untuk
menjauhkan anda dari segala yang tidak disenangi. Semoga Allah mengisi hati
anda dengan cahayaNya yang tidak pernah padam, lalu anda menang dalam
pertarungan melawan setan, jin dan manusia. Selanjutnya anda berketetapan
melepaskan jeratan dan memerdekakan diri dari tawanan hawa nafsu, menuju alam
kebebasan, kemuliaan, kehormatan, ketenangan dan alam kesucian.

Apakah Engkau Menjamin Umurmu Masih Panjang?
Wahai ukhti yang tidak ber-hijab! Engkau tidak mau berhijab dengan dalih masih
belum dewasa, apakah engkau dapat menjamin umurmu panjang beberapa saat lagi?
Apakah engkau tahu, atau seseorang mengabarkan padamu tentang kapan engkau
bakal mati?

Jika tidak, maka boleh jadi kematian akan menjemputmu setelah setahun, sebulan,
seminggu, sehari, sejam atau sedetik kemudian. Semua itu serba mungkin, selama
kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang.

Wahai ukhti, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula
orang yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat walafiat, orang
dewasa, pemuda bahkan sampai bayi yang masih menetek di pangkuan ibunya. Banyak
contoh yang bisa dipaparkan.

0 komentar:

Posting Komentar

slideshow

kagak tahu

kata sapaan

Welcome to my blog ! Suatu kehormatan bagi saya atas kunjungan akhi/ukhtidi blog saya ini. Don't Forget to mampir lagi di alamat blog www.imabebzviand.blogspot.com. Semoga mandapat sesuatu yang bermanfaat di Blog saya ini

kelelawar

Cari Blog teman di blogg aq Ini

My Music .,.,.,

Selamat Datang Di Blog Ima_Bebz_Izam

Selamat datang di Blog saya, semoga saja kalian bisa mendapatkan apa yang kalian butuhkan diblog saya ini. Terima kasih Telah Berkunjung Di Blog saya,apabila berkenan silahkan berkomentar dan follow blog saya,mari kita saling berbagi ilmu tentang apa saja...

Sekilas tentang penulis

Nama saya Ima Kurniawati,saya seorang Prlajar Jurusan Ipa Di SMA Negeri 3 Kota Mojokerto .

Social Stuff

ima